Tokoh Aktivis Buruh Wanita Yang Dibunuh Adalah?

Marsinah (10 April 1969 – 8 Mei 1993) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik pada masa Orde Baru, bekerja pada PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993, setelah menghilang selama tiga hari.

PT Catur Putra Surya Punya Siapa?

Selama ini, banyak yang menduga pembantu rumah tangga Yudi Susanto, pemilik PT Catur Putra Surya (CPS) itu, tak akan ditampilkan.

Marsinah meninggal karena apa?

TEMPO.CO, Jakarta – Hari ini, 8 Mei 2021, 28 tahun yang lalu, simbol perjuangan kaum buruh di Indonesia, Marsinah dibunuh setelah menghilang beberapa hari pasca melakukan aksi bersama rekan buruhnya di PT Catur Putera Surya atau CPS. Marsinah ditemukan tewas dengan luka tembak di tubuhnya.

Marsinah buruh pabrik apa?

Ia aktivis sekaligus buruh pabrik pada rezim orde baru di PT Catur Putra Surya (CPS) kawasan Porong, Sidoarjo sejak awal 1992. Saat ini, pabrik tempat Marsinah bekerja sudah terendam lumpur Lapindo.

Siapa dalang dibalik pembunuhan Marsinah?

Marsinah dibunuh karena memperjuangkan hak para buruh, dengan 12 tuntutan yang telah dicanangkan bersama kawan-kawannya. Yudi Susanto, selaku pemilik perusahaan yag dituntut oleh Marsinah ditetapkan sebagai tersangka.

Kasus Marsinah tahun berapa?

Seorang buruh perempuan yang lantang menyuarakan tuntutan pekerja atas kesejahteraan harus kehilangan nyawanya. Pada 9 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan di hutan Dusun Jegong, Nganjuk, Jawa Timur. Namun, hasil olah forensik pada saat itu menunjukkan bahwa Marsinah tewas sejak sehari sebelumnya.

Bagaimana penyelesaiannya kasus Marsinah?

Bagaimana penyelesaian kasus Marsinah? Sembilan orang dari PT CPS didakwa sebagai pelaku pembunuhan Marsinah. Namun di 3 Mei 1995, Mahkamah Agung (MA) memvonis bahwa sembilan terdakwa tidak terbukti merencanakan pembunuhan Marsinah. Sembilan terdakwa tersebut dibebaskan.

See also:  Organisasi Dunia Yang Berkaitan Dengan Hak Buruh?

Siapa pembunuh Ditje Budiarsih?

Mohammad Siradjudin alias Pak De alias Romo di sidang kasus pembunuhan Ditje di PN Jakarta Selatan pada 1987. Mun’im Idries juga sempat diminta melakukan forensik terhadap jasad korban Endang Sukitri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Adblock
detector